220516
Mengenai Saya
AKU adalah AKU....aku yang dilahirkan dari keluarga sederhana dikota kecil,
AKU adalah AKU....aku yang dipecut sejak kecil untuk menjadi manusia yang berguna dihari tua,
AKU adalah AKU....aku yang melihat segalanya dari kacamata seorang manusia,
terimakasih bapak , maturnuwun ibu , bahkan airmata ku pun tak bisa membalas kebaikan ini,
segala puja doa , hanya bisa kukirim , untukmu almarhum bapak ibu,
dan hanya bisa bersyukur kepada MU ya ALLOH , Tuhan sang Maha Penyayang ......
purna kata , sudah selayaknya aku harus "memanusiakan manusia dengan nurani".......
aku ,eddiepriyono.
Minggu, 22 Mei 2016
TIM SUKSES
Published " HUMAN CAPITAL JOURNAL " Magazine .
Drs Eddie Priyono MM.
Dalam
suatu kisah , seorang Senior Manager di Departemen Sales memberikan Training
kepada Sales Supervisor baru di Korporasinya , yang seolah tiada akhir .
Turn
Over pekerjaan dan jabatan yang sangat tinggi , seolah memberi training Supervisor baru sejumlah
10 orang , dan bulan depan harus memberi training lagi dalam jumlah yang sama.
Wahhhh..
Never ending training .
Dan sampai kapankah dia harus
menghabiskan waktu , dengan kesibukan mengajar yang membuatnya jenuh , dan
telah mengurangi waktunya yang seharusnya dipakai untuk berpikir dalam mengejar
volume penjualan .
Sering dia mengeluh keadaan ini ke HR Executive , kenapa SDM
yang direkrutnya tidak pernah bertahan lama, dan harus mengulang rekruit ,
mengulang training dan training lagi.
Apa sebenarnya yang telah dikerjakan oleh
Departemen HR ?
Yaa , mereka telah
membantu mencarikan kandidat , menyeleksi awal , administrasi dan lain lainnya,
namun mereka juga tak berdaya , begitu banyak yang mau menjadi kandidat ,
tetapi kembali mengundurkan diri setelah mendapatkan training , bahkan setelah
beberapa bulan join dikorporasi
Harus ada satu solusi agar situasi ini segera
berakir , apalagi competitiveness dari korporasi masih bisa disebut sebagai
diatas rata rata , baik dari take home pay , welfare , masa depan korporasi dan
eksistensinya didalam industri.
INVOLVE BUKAN
HANYA SUPPORT .
Berbicara
tentang situasi saat ini , maka inilah saat yang sangat krusial dimasa kampanye
PILPRES di Indonesia .
Begitu besar dominasi berita politik untuk pemilihan
presiden RI ,pada tanggal 9 Juli 2014 yang akan datang.
Bertubi berita kegiatan
para Tim Sukses para Kandidat , dan diselingi
berita dari relawan , yang tentunya sukarela mendukung pilihannya .
Para
relawan dengan segala jenis atribut , datang ke
POSKO Pemenangan Kandidat , untuk menunjukkan support mereka kepada
calon yang akan dipilihnya.
Dan setelah pulang dari deklarasi , boleh saja
mereka kembali ke kehidupan semula , tidak bisa dideteksi mereka berlanjut
menyebarluaskan dan meyakinkan orang lain , untuk memilih calon yang baru saja dideklarasikan
bersama rekan rekannya.
Atau mereka langsung berkampanye sendiri , karena
menjalankan komitmen.
Ini semua terserah para relawan tersebut , bahkan
seandainya target para relawan ini hanya untuk mendapatkan sorotan kamera
televisi , menjadi berita yang bisa dilihat teman , kerabat dan keluarganya .
Berbeda dengan TIM SUKSES Kandidat , yang setiap saat menganalisa apapun yang
terjadi diluar , termasuk aktifitas pasangan Kandidat saingannya.
Itulah
prioritas mereka , menganalisa , membicarakan langkah berikut bersama Kandidat
yang mereka perjuangkan saat ini.
Kerja keras siang malam untuk mempelajari
progres konstituen , per wilayah, kabupaten , propinsi sampai tingkat nasional.
Tim Sukses ibarat mata , telinga, dan konseptor
aksi berikut , think thank yang sangat diandalkan oleh Kandidat .
Sangat
berat tugas TIMSES ini , sehingga hanya orang pilihan , punya kapabelitas
tinggi, berjiwa inisiator dan inovator , dan seharusnya didengar sang Kandidat
, terlebih saat debat resmi yang ditonton jutaan pasang mata masyarakat.
TIMSES
bukan hanya di Indonesia , tetapi sudah lebih advance lagi di dunia Barat ,
apalagi USA . Merekalah alat pikir, penyempurna konsep yang ada , bahkan sampai
cara berpakaian , berpidato , senyum atau gerak tubuh Kandidat .
Bagaimana
dengan peran HR dalam memberikan kontribusi , untuk menjaring talents ,
mendesign masa depan talents , sampai dengan total kontribusinya kepada
korporasi ?
Peran HR bukan lagi hanya
mensupport Departemen lain , tetapi sudah saatnya menjadi bagian dari TIM
SUKSES Korporasi untuk mencapai tujuan visi missinya.
HR OUTSIDE
IN.
Didalam
bukunya “HR OUTSIDE IN” , Dave Ulrich , dan kawan
kawannya , menulis perkembangan HR dengan melihat
perkembangan dunia bisnis saat ini.
“ if HR
professionals are truly to contribute to business performance ,then their
mindset must center on the goals of the business .They must take ,that outside
reality and bring it into everything they do , practicing their craft with an
eye to the business, as a whole and not just their own department.”
HR
sudah harus bisa mengendus apa yang terjadi dipasar industrinya , dan bersama
Departemen lain secara aktif membuat bukan hanya strategi , tetapi sudah ikut
membuat solusi agar korporasi secara aktif bisa lebih eksis dan kompetitif
dipasar yang mereka geluti.
Dalam pandangan mereka HR telah metamorfosis dari
tahap pertama , sampai sekarang memasuki tahap keempat .
Dari awal peran HR
sebagai HR administration , berkembang menjadi HR Practices , menapak lagi menjadi HR
Strategy , dan kini saatnya menjelma menjadi HR Outside In .
Pada
era ini , HR tetap harus konsentrasi dan menjalankan tiga tahap sebelumnya ,
namun sudah harus mulai dengan tahapan outside in ini. “ rather than
rely on the three waves before , we see future facing HR profesionals looking
outside their organizations to stakeholders, to define successful HR.
Mereka harus membawa semua parameter dipasar sesuai keinginan stakeholders ,
dan menjadikannya sebagai bahan dikombinasi data inside , sebagai acuan dalam
membuat keputusannya .
HR mestinya tahu apa yang terjadi di marketplace
ataupun di workplace , dianalisis bersama sebagai masukan yang akurat
kepada Manajemen maupun Departemen lainnya.
Didalam case study diatas , sudah selayaknya HR mengetahui
bagaimana mendapatkan solusi yang tepat , agar turnover supervisor yang baru
bergabung di korporasinya bisa
diminimalkan.
Seandainya itu terjadi disatu korporasi yang memproduksi dan
menjual minuman beralkohol misalnya , maka sudah selayaknya HR memahami karakter
produk , situasi pasar dan kompetisi, kenyamanan employee karena
memproduksi barang yang dianggap haram oleh sebagian besar masyarakat dan lain
lainnya. HR seharusnya menyadari ,
Supervisor harus mau menerima keadaannya
berkecimpung diproduk yang dianggap haram , dampak kepada mental dan moral
dirinya , keluarga, lingkungan, untuk masa depan , bukan sekedar mencari
nafkah dan karir saja,.
Apabila ini telah dipahami calon talents , masih
banyak hal di marketplace yang disebut outside untuk dimasukkan sebagai
in dari masalah ini.
Pengetahuan
tentang Peraturan Pemerintah tentang alkohol , Perda , aturan tidak
tertulis didunia malam , ‘red light district’ ,dan banyak hal lain yang
menjadi tantangan.
Ditambah dengan pengetahuan pembuatan barang palsu untuk
menghindari excise , persaingan keras
dalam merebut customers yang sebenarnya illegal , termasuk adu kuat promosi dan
lain lain.
Apabila hal tersebut diatas belum termasuk dalam agenda HR yang
merekrut , atau sudah tahu , tetapi tidak memasukkan program dalam mendapatkan
talents dan memberikan training yang inline , maka sudah wajar turnover
Supervisor akan tinggi .
Sungguh kasihan Senior Manager , harus berbicara
hal yang sama untuk supervisor yang berbeda setiap bulannya.
Dengan HR
outside In , HR akan lebih bisa membuka mata dan menjadi “TIM SUKSES” yang baik bagi Korporasi dalam
mencapai tujuannya . Bukan sekedar supporter
S
e m o g a .
eddie.priyono@yahoo.com
220516
220516
Sabtu, 21 Mei 2016
TARGET TRAINING or TRAINING for THE TARGET
Published "HUMAN CAPITAL JOURNAL " Magazine.
Drs Eddie Priyono MM.
seorang
General Manager disalah satu perusahaan aqua feed , sangat heran.
Segala
training telah dia jalankan khususnya untuk para salesforcenya.
Namun tetap saja penjualan dalam volume nya
kurang menggembirakan, dan teguran demi teguran dia terima dari Head Officenya
di Singapore.
Maka berundinglah dia
dengan Sales Manager dan HR Manager, apa sebenarnya yang terjadi di departemen
Sales.
HR dan Manager unit melaporkan
bahwa training, evaluasi kerja, bahkan sampai ke Job Des dan Job Evaluation
telah dibicarakan per individu dan daerah pemasarannya.
Dan dalam pembicaraan
berikutnya, si GM mencoba untuk menganalisis ‘Marketing Mix ‘nya, untuk
mempelajari competitiveness dipasar , dan tetap tidak ada yang negative.
Bahkan P dari Pricing mereka lebih kompetitif,
karena satu layer lebih murah dari
competitor ,dengan kwalitas produk yang sama.
Dan mereka bersepakat mengusulkan ke HO ,untuk diijinkan menaikkan harga
per kilogramnya, dengan asumsi kenaikkan harga ini akan dipakai untuk insentif
kepada sales supervisor dari setiap penjualan feed yang mereka jual.Analisis GM ini sangat komprehensif , karena kenaikkan penjualan feed, yang dimulai dari ration feed yang lembut sampai ke feed yang agak besar, akan membuat petambak terikat sampai dengan mereka memanen udangnya, yang otomatis memakai feed yang sama.
Dan ini berarti akan terus menggunakan feed hasil produksi mereka sampai dengan masa panen tiba.
Setelah program insentif ini dijalankan, betapa
senangnya si GM karena bukan hanya volume yang bertambah, tetapi kepastian
volume naik, karena petambak yang lebih banyak menggunakan jenis produk feed
nya sampai dengan panen.
Artinya dengan lebih mudah Annual Target yang
dijadikan missi tahunan korporasi mudah dicapainya.
Training yang intensif
memang sangat diperlukan, tetapi
MOTIVASI dari salesforce, kepercayaan diri dan harapan mendapatkan bonus lebih, akan memacu si salesfoce
untuk extra ordinary bekerja menjual produknya dengan full spirit dan never
giveup.
Perpaduan strategy, training,
motivasi dan control yang baik ini , membawa kesuksesan bagi si GM, yang juga
kegembiraan seluruh personil di korporasi.
SELF CONFIDENT
Harus disadari bahwa SPEED akan mempunyai indikasi menurunkan control,
dan ini yang harus selalu diingatkan dan dipatuhi.
Begitupun
SIMPLICITY, dia mengatakan, in marketing,it means clear messages and
clean proposals to consumers and industrial customers.
Kecepatan, kejelasan
pesan, dan tentunya focus kepada task masing masing , akan membuat performance
individu lebih bisa mudah tercapai.
Walaupun sudah dibekali training, dimotivasi dengan kecepatan dan focus, ini tidak banyak membantu seandainya tidak dibarengi dengan keyakinan , keberanian diri untuk memenangkan pertarungan dipasar.
Sudah menjadi satu ciri khas dalam recruitmen seorang salesforce , untuk menanyakan pertama kali kepada kandidat, “ apa kelebihan kamu ?
Strong point
apa yang dipunyai sehingga berani melamar jabatan ini ?
Apa
kekurangan kamu, yang perlu diketahui
dan harus diminimize atau dihilangkan ?”.
Seandainya si kandidat tersebut jujur
dan benar, maka lebih mudah bagi manager
ataupun HR untuk membantu si kandidat saat diterima sebagai karyawan.
Bahkan Slater dalam bukunya diatas mengatakan,
bahwa kalau seseorang tidak mempunyai self confident , maka dia tak akan bisa
berpikir simple dan focus.
You have to have the self confidence, to make
meaningful changes in your business. Have the self confidence to simplify and
speed up your business procedures.
Pada
saat pertandingan ekshibisi sepakbola, antara PSSI melawan satu kesebelasan kelas
dunia di Jakarta , penyerang sayap kiri kita Andiek Virmansyah yang kecil
mungil , berani fight head to head melawan David Beckam pemain legendaries dari
Inggris.
Walaupun Andiek jatuh bangun melawannya, namun diakhir pertandingan si
Beckam berlari menghampiri Andiek, memeluknya dan meminta tukar jersey atau
kaos yang dipakainya.
Satu contoh nyata, betapa self confident, walaupun akhirnya kalah, akan membuat apresiasi , ditambah latihan pisik strategi, focus dan kecepatan.
Membangun self confident memang
memerlukan contoh contoh factual dari seniornya, terutama yang mempunyai
pengalaman lapangan, yang berani memberi contoh langsung dilapangan atau
dipasar. Dengan membawa si sub ordinate kepasar, dan memberikan arahan arahan , dan tentunya
dengan terus memonitor aktifitas hariannya.
Self confident yang sudah
menggumpal dalam satu team, akan membuat keberanian dan keyakinan pribadi atau seseorang, menjadi ”team
confident” dan inilah
kekuatan yang luarbiasa dalam mencapai tujuan bersama di korporasi.
Ada rasa kebersamaan yang tinggi, soliditas
yang kuat dalam mencapai tujuan bersama.
Dan inipun bisa menjadi rasa senasib dalam
berjuang bersama, dan tugas CEO untuk mengarahkan dengan benar dan positif , karena kalau berlebihan berindikasi rasa
senasib dalam kebenaran, tetapi dalam hal negative akan menjadi rasa senasib
walaupun diluar tatanan hukum.
Training yang terjadwal, isi training beserta
strateginya, tetap memerlukan analisis after training, dan disinilah peran HR
dan Manager Unit sebagai HR lapangan melihat sampai seberapa jauh hasil
training, dan sampai sejauh mana para personilnya memahami isi dari training
yang sudah diterimanya.
Tetapi lebih dari itu , apakah training telah juga
membangkitkan self confident, dan
memudahkan
mencapai tujuan korporasi.
mencapai tujuan korporasi.
Seyogyanya bertambahnya pengetahuan seseorang, akan membuat dirinya lebih confident.
Tugas
dari CEO dan jajaran managernya untuk tetap menjaga irama dan semangat para
sales forcenya, dengan tidak menjadi over confident, atau malahan menjadi
semangat yang kebablasan yang membahayakan kesehatan dan kehidupannya.
Sangat ironis apa yang dialami seorang sales
supervisor, yang harus wafat meninggalkan dunia dan keluarganya, pada bulan Maret
yang lalu, karena mengikuti satu event disalah satu café sampai dengan jam 4
pagi.
Kecelakaan fatal tidak bisa dihindari, dalam kondisi mengantuk, kecapaian,
kehilangan focus dan terlalu bersemangat dengan self confident yang tinggi
dalam menjalankan tugasnya.
Tugas dari
CEO untuk mengingatkan, termasuk kepada sekretarisnya untuk menjaga irama
kerja, menjaga kesehatan dan memaintain stress, karena tidak mungkin menghilangkan stress
kerja , dan sekretaris lah weapon
terdekat yang dipunyai CEO sehari hari
Karena tugas CEO sebagai THE HIGHEST HR ,
adalah memanage korporasi dan tentunya memanage asset termahal disana,
human resources.
Susunlah target
training, temukan training yang cocok dan gunakan training tersebut untuk
mencapai target korporasi, dengan mempertimbangkan humanisasi.
Semoga.
eddie.priyono@yahoo.com
220516
SETIA vs SE TI A
PUBLISHED di " HUMAN CAPITAL JOURNAL " Magazine.
Drs Eddie Priyono MM .
Seseorang, bertanya kepada teman yang
sering dan sudah 9 kali berpindah pindah tempat kerja. Kenapa sih dirimu tidak
mempunyai loyalitas yang tinggi, dan terus berganti tempat kerja seolah tidak ada puasnya?
Apakah
hanya memikirkan penghasilan tinggi, fasilitas kerja ,atau sekedar advonturir ?
Dan kapan dirimu akan mulai betah, setia ,
dan bertahan di satu tempat kerja ?
Suatu pertanyaan yang menggelitik, karena
seorang professional yang biasanya juga disebut talents atau super SDM, mempunyai pertimbangan yang
bervariasi dan private untuk pindah
kerja.
Benarkah ini suatu tanda,
bahwa semakin tinggi value
sang talent dan semakin banyak yang
membutuhkan profesionalisme nya, semakin besar kesempatannya untuk lompat pagar seenaknya ?
Dan itukah tanda ketidak setiaan nya ?
Atau , adakah peran HR juga yang menyebabkan talent memutuskan angkat koper dan mencari
tempat baru untuk menunjukkan kemampuannya.
Dalam dunia sepakbola professional,
hal ini jamak terjadi, seandainya seorang striker berpindah klub, untuk lebih
menunjukkan tajinya di klub baru dengan value yang lebih tinggi.
Mereka tidak sepenuhnya loyal kepada Klub nya,
tetapi mereka LOYAL kepada PROFESI
nya. Seorang Cristiano Ronaldo boleh
berganti klub setiap musim, tetapi dari profesi dia akan tetap berkiprah sebagai striker, dan bukan kiper.
Kesetiaan kepada profesi adalah hal yang
utama dan prisip , dan harus dipunyai
seorang talent, karena itulah keahlian yang
akan diberikan kepada korporasi.
Tetapi kesetiaan kepada korporasi berbeda dan mempunyai
banyak hal dibelakangnya, khususnya peran HR sebagai pengelola human resources
internal korporasi.
Ini menyangkut
penerapan aturan aturan baik dari Kementrian Tenaga Kerja maupun aturan
internal korporasi termasuk climate yang membuat seseorang betah atau gerah untuk berlama lama bekerja di korporasi tersebut.
Dalam fakta operasional, sangat sering seorang manajer HR ‘dipakai’ sebagai
bulldozer oleh sang CEO untuk menjalankan missi korporasi.
Hal yang sangat
wajar, seandainya itu masih dalam koridor aturan yang benar, tetapi kalau sudah
dipakai oleh sang CEO untuk menjalankan
ego dan hal hal yang berseberangan dengan aturan, maka si manajer HR sudah masuk kedalam blunder cycle yang merugikan korporasi
maupun si talent.
Seorang CEO tidak suka dan ingin membuang seorang Area
Manager di Jawa ke Jayapura, dengan harapan sang manajer akan mengundurkan
diri ?.
Itulah target dan keinginan CEO
maka iapun memerintahkan manajer
Operasional dan manajer HR untuk membuat
surat pindah.
Tanpa melakukan penelitian dan assessment, HR menjalankan
instruksi CEO.
Dua kerugian telah
terjadi, yaitu kerugian korporasi maupun si talent, karena kecerobohan ini.
Korporasi rugi, karena kalau area tersebut dimanage oleh seorang talent
berdasarkan assessment yang riil dan benar, tentu hasilnya akan jauh lebih
bagus daripada dimanage oleh seseorang
yang dibuang karena tidak disukai CEO.
Si talent rugi karena harus berangkat dengan
perasaan yang galau dan merasa dirinya dibuang oleh korporasi, atau , dia harus memutuskan berpindah kerja
lagi,seandainya dia sudah ready to go. Cerita extreme seperti ini kalau sampai benar terjadi
tentu sangat disayangkan, karena HR
telah ikut berperan menciptakan climate yang tidak kondusif dan merugikan
korporasi sendiri.
Kemungkinan akan
banyak sindiran yang akan terlontar dari internal korporasi , HR bukanlah HUMAN
RESOURCES , tetapi telah berubah
menjadi ” Hulubalang Raja” .
Berbagai
sudut pandang talent sebenarnya bisa dilihat dan dianalisis , karena bisa menjadi acuan HR sebagai pengelola SDM terutama terhadap talent yang menjadi asset penting korporasi.
HR
seharusnya menjadi pengayom SDM dan
talent, sekaligus garda terdepan pelaksana
aturan ketenaga kerjaan dan aturan korporasi sendiri.
Tidak ada alasan apapun
bagi lembaga HR, untuk lebih mementingkan ego dan kekuasaan Direksi , dengan
mengorbankan suasana dan kenyamanan kerja para SDM dan talent.
JOB
SATISFACTION vs HRD
Dalam bukunya ”ORGANIZATIONAL BEHAVIOR ”.Fred Luthan menulis tentang 5 job
dimensions yang mewakili characteristic pekerja dalam menentukan job
satisfactions.
1. The Work itself.
2. Pay , remuneration’
3. Promotion opportunities.
4. Supervision.
5. Coworkers and working group.
Jelas sekali yang dia sebutkan disini,
tetapi dia masih menambahkan satu kategori lagi,yaitu Working Conditions.
Dan inilah kunci untuk mengikat kelima karakter
diatas.
Peran dari HR sangat penting
untuk menjaga working conditions ini, mulai
dari sistim kebersihan yang terkoordinir
dengan baik, sampai dengan flexibelitas suasana kerja dalam koridor aturan aturan
dan lain lainnya .
Bukan sekedar menyenangkan Direksi dan mengorbankan value
dari working conditions.
Assesment ,
penilaian kinerja terhadap HR memang harus spesifik, untuk memberikan impresi kepada para talent
tentang fairness assessment , dan ini harus berani dilakukan oleh korporasi ,
untuk menjaga Working Conditions, bahkan menaikkan kenyamanan kerja ini ke
level yang lebih tinggi. Job satisfaction yang lebih baik dari tahun ketahun
sangat didambakan oleh para talent , karena dengan situasi ini , kinerja ,
inovasi , breakthrough dalam productivity , sampai ke peningkatan kwalitas
output korporasi akan lebih sering terjadi, yang akan menyebabkan posisi
korporasi meningkat di industrinya , baik yang bersifat tangible maupun
intangibles.
Value improvement seperti
ini sangat didambakan para Shareholders, Dewan Komisaris , Dewan Direksi, seluruh
‘penghuni korporasi’, sampai kepada pelaksana jalur distribusi ke customers
termasuk pengguna produk dan jasa korporasi tersebut.
Balance score card untuk HR memang
mengandung hal hal yang juga bersifat abstrak, bisa dirasakan , tetapi sulit untuk dilihat dengan mata kepala ,
apalagi oleh seseorang dari external korporasi. Assesment HR secara tahunan
bukan hanya berisi penggunaan anggaran ,pelaksanaan rekruitmen tepat waktu dan
terpenuhi kwalitas dan kwantitas , evaluasi
in out karyawan ,pelaksanaan training terskedul maupun adhoc , hubungan
tripartite yang harmonis dan lain lainnya.
Tetapi hal paling sulit, salah
satunya adalah mengukur tensi job
satisfaction di internal korporasi.
Working Conditions yang dikatakan talent terkadang bersifat subyektif, dan tidak mewakili yang dirasakan oleh mayoritas.
Working Conditions yang dikatakan talent terkadang bersifat subyektif, dan tidak mewakili yang dirasakan oleh mayoritas.
Hal ini sebenarnya tidak perlu dirisaukan, karena tolok ukur
realistis adalah , betahnya para SDM dan talent, berkurangnya kwantitas yang
meninggalkan korporasi , dan tebaran senyum para penghuni korporasi karena
suasana nyaman ,walau seberat apapun tantangan yang ada , baik yang internal
maupun dari competitor.
Mindset yang positif dan konstruktif , adalah buah
karya terberat HR.
Seorang HR yang berusaha untuk selalu mendatangi departemen
lain, berkomunikasi setiap saat dengan konsep mendengarkan ,berfungsi sebagai
pengayom bagi semuanya, dan menjalankan fungsi structural sebagai tulang
punggung CEO, untuk menjalankan
instruksi instruksinya sesuai aturan main yang benar dan menguntungkan korporasi
dan SDM nya.
Jangan biarkan para talent memulai selingkuh , dengan melirik kanan kiri korporasi mencari tempat yang
lebih nyaman buatnya.
Bukan hanya materi
yang diinginkan ,seperti kata Fred Luthan diatas , tetapi lebih kepada working
conditions yang digelutinya sehari hari.
Jangan biarkan teman diatas bertindak
SE-TI-A, selingkuh tiada akhir ,
mencari tempat bekerja yang kesepuluh.
Tetapi biarkan dia menikmati working conditions yang baik di korporasi ini, denagan kata SETIA yang sebenarnya.
Semoga.
eddie.priyono@yahoo.com
220516
...J A R K O N I...
Published di "Human Capital Journal" magazine.
Drs. Eddie Priyono MM
Suksesnya
pencapaian tujuan korporasi, identik dengan suksesnya kinerja seluruh jajaran Sumber Daya Manusia , sesuai
planning yang telah disusun didalam budget tahunan.
Pada awal tahun 80an, seorang lulusan sarjana
ekonomi yang pada saat itu masih sangat langka , sempat tertegun , karena begitu dia
diterima sebagai “management trainee”
disuatu perusahaan multi national yang memproduksi consumers product, dia harus magang menjadi
salesman kepasar pasar tradisional
Bukankah kalau diterima kerja , seorang sarjana seharusnya bisa langsung jadi Boss ?...pikirnya...
Dengan dibekali modal Rp 2juta , plus mobil van dan 1
sopir, dia harus menjual produk produk ke retail, sekaligus mendisplay produk,
dan memasang alat peraga sarana reklamenya.
Inilah aktifitas harian seorang sales promotor , yang menyisip produk
yang belum ada di outlets , karena distributor sudah terbiasa hanya menjual produk yang
mudah dan laku dijual.
Para SP ini juga diharuskan
untuk mendisplay produknya hingga eye catching , diselingi alat peraga, khususnya produk yang
saat itu sedang masa promosi.
Dalam
waktu 3 bulan , dia harus membuat laporan harian, mingguan dan bulanan yang tidak boleh ada selisih antara stok, kas ,dan dikonsolidasi dengan pengeluaran uang makan, bensin,
parkir dan lain lain.
Benar benar suatu
pekerjaan lapangan yang jauh dari perkiraannya karena merasa dirinya adalah
sarjana.
Dan setelah 3 bulan berjalan, saatnya
sang Management Trainee memberikan
presentation didepan HR dan Manager terkait, apa saja yang telah dikerjakannya.
Termasuk hasil audit pekerjaannya , yang dilakukan oleh supervisor yang berwenang diarea
tersebut, bersama tim auditor dari korporasi.
Dan yang paling ditunggu oleh Tim Penilai, ada lah usulan usulan , ide baru, dan temuan temuan,
tentang produk, alat peraga, komentar dari retailers, konsumen, aktifitas
competitor dan lain lain.
Kemampuan, kemauan, semangat dan talenta sangat
terlihat disini, bukan hanya teori , tetapi sudah mencakup praktek lapangan
,mental, disiplin, kejujuran, kreatifitas dan semangat juang si MT ini.
Apabila dianggap lulus oleh Tim Seleksi, maka si MT berlanjut dengan magang sebagai
Supervisor selama 6 bulan kedepan.
Dan
kini didepannya terbentang lingkup kerja yang luas dengan membawahi sales promotor yang
sebenarnya , Sales Promotor asli , bukan yang magang .
Demikian seterusnya, setelah 6 bulan si MT harus kembali berhadapan
dengan Tim Seleksi untuk presentasi serupa.
Barulah dalam 3 bulan terakhir sebelum
menginjak 1 tahun, si MT dijajal sebagai
Deputy Area Manager disuatu area yang
telah dipersiapkan.
Dan , akhirnya setelah 1 tahun , dia telah ready for use sebagai Asistant Manager dan bisa naik kejenjang jabatan
seterusnya.
Program pelatihan semacam ini memang dipersiapkan untuk mendapatkan
talenta talenta calon pimpinan korporasi
yang teruji dan mumpuni di masa yang akan datang.
Dan model pelatihan semacam ini telah lama
dijalankan oleh Militer dan Kepolisian melalui Akademi mereka.
Sangat kontradiksi dengan kondisi sekarang
, dimana banyak pimpinan instant, yang tiba tiba menjadi boss karena factor
factor tertentu , dengan tidak melalui
tahapan seleksi skill, mental, dan talenta yang ada dalam
dirinya.
Kenyataan ini terjadi baik itu dibirokrat, politik, korporasi
ataupun institusi lainnya, yang membuat kinerja di organisasi tersebut
mempunyai kendala pada kwalitas pimpinan.
Dan tidak bisa dipungkiri, itu juga berimbas
kepada kinerja organisasi dalam mencapai tujuannya. Kita tidak perlu heran , kalau
kinerja dibeberapa daerah itu kurang maksimal karena factor pelatihan yang kurang dipersiapkan untuk PIMPINAN yang
instant ini .
Memang sudah banyak pimpinan daerah, atau korporasi yang
menyadari hal ini, dan mereka mengejar ketertinggalan ini dengan pelatihan,
pengembangan dan cara cara mengukur kinerja yang optimal bagi organisasinya,
baik melalui balance score card ataupun
metode lainnya.
JARKONI
Prof.Dr.Sondang
P Siagian MPA dalam “ Manajemen Sumber
Daya Manusia” mengatakan bahwa tujuan kesuksesan suatu organisasi tidak pernah
lepas dari 4 kategori tujuan, yaitu :
- Tujuan masyarakat secara
keseluruhan.
- Tujuan organisasi tersebut.
- Tujuan fungsional yaitu
manajemen SDM didalam organisasi.
- Tujuan pribadi para anggota
organisasi tersebut.
Kesuksesan
suatu organisasi tidak hanya dengan tercapainya tujuan organisasi , tetapi juga
bermanfaat bagi masyarakat ataupun konsumen, internal organisasi maupun
individu individu yang melaksanakan aktifitas organisasi tersebut.
Suatu
kompleksitas yang harus dimengerti oleh CEO,
Kepala Daerah, ataupun pimpinan Institusi.
Jangan sampai seorang CEO atau Pimpinan
Organisasi mempunyai sifat egois, dengan tidak mau melihat kekurangan dirinya,
melupakan masukan dari bawahan, apalagi tidak berminat menambah skill nya
melalui pelatihan dan pengembangan.
Satu contoh dari PHILLIPS
B CROSBY dalam bukunya “QUALITY
WITHOUT TEARS” tentang demotivasi.
Seseorang
yang telah diberikan pelatihan, dan mulai bekerja diperusahaan dengan anthusias
yang tinggi, serta bangga dengan
institusi tersebut.
Namun setelah beberapa bulan, dia mulai merasa bimbang.
Antara lain mulai mengeluh : They
don’t care about quality, I had this good idea but nothing happened, There is no way to get ahead around here,
dan lain lain keluhan.
Hal seperti ini adalah bibit dari suatu kerawanan
soliditas organisasi, yang harus cepat
diselesaikan oleh sang CEO atau Pimpinan Organisasi.
Seorang CEO yang dipersiapkan
dari awal dengan spartan seperti si Management Trainee diatas, tentu akan cepat
tanggap, karena dia merasakan hal yang
sama disaat dia magang sebagai trainee dahulu.
Begitupun CEO instant yang telah mengupgrade
diri melalui pelatihan , akan merasa kawatir dengan situasi ini, karena bisa
saja tujuan organisasi terhambat dengan kinerja SDM yang demotivasi.
Maka
sebaiknya jadilah pimpinan yang cepat tanggap , ojo
rumongso biso, nanging ora biso rumongso, jangan merasa serba bisa, tapi
tidak merasakan apa yang sebenarnya terjadi.
Dalam bahasa popular ini disebut sebagai JARKONI.
Singkatan dari “BISO NGAJARI NANGING ORA BISO NGLAKONI”. BISA MENGAJAR
TAPI TIDAK BISA MELAKSANAKAN.
Seorang
CEO dituntut tahu lapangan, bersama sama turun kesana dan menguasai lapangan
untuk lebih meyakinkan karyawannya.
Seorang pensiunan jendral di POLRI yang
terakhir bergelut di LEMDIK mengatakan kepada siswanya : “saya tidak mau hanya
memberikan contoh yang baik baik ,
tetapi saya harus melaksanakan contoh contoh yang saya berikan ini , didepan para siswa”.
Konsisten ucapan dan perbuatan ,
Komitmen terhadap ucapan.......sadarkah kita akan hal ini ??
Komitmen terhadap ucapan.......sadarkah kita akan hal ini ??
Kesuksesan
pencapaian TUJUAN organisasi adalah
kesuksesan kinerja seluruh jajaran sumber daya manusia .
Termasuk sang CEO.
Semoga.
eddie.priyono@yahoo.com
220516
Selasa, 12 April 2016
joyoboyo ......antara budaya , kearifan dan ...... pemahaman arti kehidupan.
Tradisi adalah kekayaan budaya ,
Luhurnya peninggalan leluhur , bisa dilihat dan dibaca dari sejarah,
Dan....bangsa Indonesia memiliki semau hal itu ,....warisan yang adiluhung....bermartabat tinggi.
Baik dari peninggalan sejarah , prasasti , buku , dan budaya yang sangat dalam ,
.......luas tiada batas nya untuk terus digali....
Tersebar dari Sabang sampai Merauke.....
Salah satu tulisan yang sangat dihargai , dipercaya dan menjadi mytos adalah "serat joyoboyo",
Sangat filosofis , arif ....dan selalu menjadi pertanyaan batin......
Benarkah Joyoboyo itu 'weruh sakdurunge winarah'....sudah mengerti sebelum terjadi ?
Tiada seorangpun yang tahu , karena serat ini hanya bisa dibaca, dihayati , dimengerti.... dan terakhir dipakai untuk instrospeksi diri.....
Penilaian diri agar tidak terjerumus kedalam kejahatan , kedzoliman,
Dan ..mengajak kita kedalam kebenaran , kebaikan , kejujuran dalam menemukan jatidiri yang terbaik dari nurani yang bersih.....

Sahabat remajaku , mas Widodo Pudjianto , entah sadar atau tidak , telah menjadi salah satu yang menyebarkan rangkaian kata , syair dan pitutur dari Joyoboyo....
Dan akan bermanfaat untuk disimak menjadi cermin kehidupan , menemukan jatidiri ditengah dunia yang semakin semrawut...
Maturnuwun mas......"k a s i h T u h a n m e n y e r t a i".......
Mbesuk yen wis ono kreto tanpo jaran (= mobil)
Tanah Jowo kalungan wesi , ( rel keretaapi )
Prahu mlaku ing dhuwur awang awang , ( pesawat )
Kali ilang kedhunge ,
Pasar ilang kumandhang'e ,
Iku tondho yen jaman Joyoboyo wis cedhak,
Bumi soyo suwe soyo mengkeret ,
Sekilan bumi dipajeki ,
Jaran doyan sambel ,
Wong wadon nganggo pakeyan lanang , wong lanang
memba2 dadi wong wadhon ,
Iku tandane yen wong bakal nemoni wolak waliking jaman,
Akeh janji ora ditetepi ,
Akeh wong nglanggar sumpahe dhewe ,
Menungso padha seneng tumindak salah ,
Ora gelem nggunakake hukum Alloh ,
Barang jahat diangkat angkat ,
Barang suci dibenci ,
Akeh menungso mung ngutamakke dhuwit ,
Lali kamanungsane ,
Lali kabecikane ,
Lali sanak lan kadange ,
Akeh bapa lali anak ,
Akeh anak wani nglawan wong tuwa ,
Sedulur padha cidra , Kaluwargo Padha curiga , Kanca
dadi mungsuh, mungsuh dadi kanca ,
Akeh menungsa lali asale , Ratune ( pemimpine ) ora adil ,
Akeh wong pangkat sing jahat ,
Akeh kelakuan sing ganjil ,
Wong apik apik padha kapencil , Akeh wong nyambut
gawe apik2 padha ngrasa isin ,
Luwih utama ngapusi ,
Wegah nyambut gawe ,
Kepingin urip mewah ,
Ngumbar nafsu angkara murka,nggedheake duraka ,
Wong bener thenger thenger ,
Wong salah malah bungah , Wong apik ditampik tampik ,
Wong jahat malah munggah pangkat , wong agung kasinggung,
Wong ala dipuja ,
Wong wadon ilang kawirangane ,
Wong lanang ilang kaprawirane,
Akeh wong lanang ora duwe bojo ,
Akeh wong wadon ora setia narang bojone ,
Akeh ibu padha ngedol anake ,
Akeh wong wadhon ngedol awake ,
Akeh wong padha ijol2an bojone ,
Wong wadon nunggang jaran ,
Wong lanang linggih plangki ,
Randha seuang loro ,
Prawan seaga lima ,
Dhuda pincang laku sembilan uang ,
Akeh wong ngedol elmu , Akeh wong ngaku aku , Njobone
putih njerone dhadhu ,
Ngakune suci nanging sucine palsu ,
Akeh bujuk akeh laja ,
Akeh udan salah mangsa ,Akeh prawan tuwo ,
Akeh randha nglairake anak ,
Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapak'e.
,
Agama akeh sing nentang , Prikamanungsan soyo ilang ,
Omah suci dibenci ,
Omah ala soyo dipuja ,
Wong wadon lacur ing endi endi ,
Akeh laknat ,
Akeh pengkianat ,
Anak mangan bapak ,
Sedulur mangan sedulur , Konco dadi mungsuh ,
Guru disatru ,
Tangga padha curiga , Kana kene soyo angkara murka ,
Sing weruh kebubuhan ,
Sing ora weruh ketutuh , mbesuk yen ono peperangan ,
Teka saka wetan , kulon , kidul ,lor ,
Akeh wong becik soyo sengsara ,
Wong jahat soyo seneng , wektu iku akeh dhandhang
diunek ake kuntul ,
Wong salah dianggep bener , Pengkianat nikmat, durjana soyo katon nyoto ,
Wong jahat munggah pangkat ,
Wong lugu kabelenggu , wong mulya dikunjara ,
Sing curang garang ,
Sing jujur kojur ,
Pedagang akeh sing keplarang ,
Wong main akeh sing ndadi ,akeh barang haram ,
Akeh anak haram ,
Wong wadon nglamar wong lanang ,
Wong lanang ngasorake drajate dhewe ,
Akeh barang2 mlebu luang ,
Akeh wong kaliren lan wuda ,
Wong tuku ngglenik sing dodol ,
Sing dodol akal okol ,
Wong golek pangan kaya gabah diinteri ,
Sing kebat kliwat ,
Sing telah sambat ,
Sing edhe kesasar ,
Sing cilik kepleset ,
Sing anggak ketunggak ,
Sing wedi mati ,
Sing nekad mbrekat ,
Sing jerih ketindih ,
Sing ngawur makmur ,
Sing ngati ati ngrintih ,
Sing ngedan keduman ,
Sing waras nggagas ,
Wong tani ditaleni ,
Wong dura ura2 ,
Ratu ora netepi janji, musna panguwasane ,
Bupati dadi rakyat ,
Wong cilik dadi priyayi,
Sing mendel -e dadi gede , Sing jujur ajur ,
Akeh omah ing duwur jaran ,
Wong mangan wong ,
Anak lali bapak ,
Wong tuwa lali tuwane ,
Pedagang adol barang saya laris ,
Bandhane saya ludes ,akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan ,
Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sengsara ,
Sing edan bisa dandan, Sing bengkong bisa nggalang gedhong ,
Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil ,
Ono peperangan ing njero , timbul amargo para pangkat
akeh sing salah tampa..
Pitutur Jawa asli iki aja dilalekno,
Urip iku mung sedhela ,

NASEHAT DAN FILOSOFI INI , JANGAN DILUPAKAN....
KARENA HIDUP INI HANYA SEBENTAR.....
s e m o g a .
12042016
eddie.priyono@yahoo.com
Senin, 11 April 2016
dan.....si Ken pun tersenyum , meniti pelangi......pergi kelangit.

Umur tidak bisa ditebak.
Tuhan lah Sang Penentu hidup ini .
Maha Agung , Engkau Sang Pencipta , Alloh SWT.
Satu keluarga bahagia , si Bapak seorang profesional di pengeboran minyak , jauh di Sumatra,
Sang ibu , bersama putra kesayangannya , menanti dengan setia kehadiran si Bapak setiap bulan,
Dan..si Ken kecil , gendut , lucu , pintar , belum genap 3 tahun , adalah "mutiara keluarga" ,
Dan..setiap bertemu , mereka selalu bersama ..... menikmati hidup bahagianya.
Alkisah , tiga minggu yang lalu , si Ken panas badannya , pilek batuk ..gejala sakit biasa,
Dan si Bapak yang melihat putranya sakit , memutuskan membawanya ke rumahsakit ,
Dan karena si Ken kejang kejang , terpaksalah menerima anjuran dokter untuk dirawat inap disitu...
Ahhh , tak ada masalah......dan kebahagiaan tetap terpancar dipasangan muda ini,
Berdua , mendamping putra yang mulai membaik , penuh canda diruang inap VIP RS tersebut.
Baru beberapa hari keluar dari RS , si Ken dilarikan ke RS yang lebih besar dan modern,
Panas badan yang tidak biasa , ditambah gejala lain , memaksa si ibu membawa berobat lagi,
Sang Bapak pun berlari kencang dari hutan tempatnya bekerja , hanya untuk menemani sang mutiara,
Seminggu penuh , si Ken berjuang di ICU yang diisolir......
Dan Minggu pagi menjelang subuh pun datang........
Bak halilintar menyambar, si Ken berpamitan ke ayah bundanya.....pergi untuk selamanya,
Si Ken kecil tersenyum , sudah selesai perjuangannya melawan rasa sakit ...
Si Ken sempat berbisik lirih ,..... sehari sebelumnya ,
Ibu , Ken mau pulang.....naik mobil bersama Bapak yaaa...
Jenasah si Ken kecil , dipeluk sang ayah , duduk dikursi belakang sedannya,
Sang ibu menyetir mobil itu didepan..
Dan kereta jenazahpun tidak dipakai , ..hanya sempat mengiringi sedan tersebut ke pemakaman,
Mereka bertiga ,
Tetap satu mobil ,hanya untuk mengantar "sang mutiara" ketempat peristirahatan terakhir .
Dan...yang hadirpun mengusap airmatanya......menghapus kesedihan yang sangat dalam....
Satu realita hidup pahit yang telah terjadi..........
Dan itu semua kuasa Alloh SWT , tiada seorangpun yang sanggup menghentikannya...
Hari Sabtu sebelumnya , Gubernur Kepulauan Riau yang sudah sepuh.....juga meninggal dunia saat mengikuti rapat kerja di Jakarta...
Hari Sabtu malam , mantan Menteri Tenaga Kerja , yang juga sudah sepuh, berpulang di Malaysia , setelah bertarung melawan penyakitnya ,...........
Seorang teman profesioanal, yang masih berusia dibawah 50 tahun , dan masih produktif ........... disaat yang sama juga berpulang , setelah stroke menimpanya.....
Usia bukan ukuran seorang anak manusia ,
Bisa tua , setengah baya , atau bahkan balita.....
Setiap saat , bisa dipanggil Yang Maha Kuasa..
Apa yang menjadi bekal selama hidup...???
Apa yang akan dipertanggungjawabkan diakherat......??
Mari kita instrospeksi dan menjawabnya sendiri....
Wahai para Penguasa , Pengusaha Nakal , Anggota Parlemen , Pejabat , Pekerja Sosial , Pengurus Masjid , Guru sekolah....dan siapapun...siapapun......yang hidup diplanet bumi ini...
Masih berani KORUPSI...?
Masih berani PATGULIPAT DENGAN KEUANGAN dan PAJAK ?
Masih berani BERZINA , JUDI , MABUK , MERAMPOK , MENCURI ...?
Masih berani berbuat yang melanggar aturan agama , melanggar norma hidup ?
Dipersilakan ,dan diri sendirilah yang mempertanggung jawabkan perbuatannya didepan Tuhan,
Artikel ini hanya mengingatkan kepada diri penulis sendiri , dan sahabat , saudara , siapapun yang memahami arti kebaikan dalam hidup ini .....
Syiar memang harus dimulai dari diri sendiri , keluarga dan seterusnya.......
Selamat jalan para almarhum yang mendahului kita...
Selamat jalan ananda Ken...
Kita iringi doa , sambil memandang si Ken yang tersenyum.......
Meniti pelangi......pergi kelangit...............dan menuju sorga.
s e m o g a.
11042016
eddie.priyono@yahoo.com


























